Kerja di Balik Ketok

Cerita Nyata

Cecilia Indradjaja dan suaminya, Tulus Wuliata, baru pindah ke rumah baru mereka di desa. Kisah yang dituturkan dalam Ketok adalah kisah nyata tentang kejadian yang dialami Cecilia pada suatu malam. Ternyata Tulus juga mengalami kejadian serupa di rumah yang sama.

Ide membuat film pendek ini datang setelah Tintin Wulia mendengar kisah nyata yang dituturkan Cecilia untuk ketigabelas kalinya. Yang dituturkan dalam Ketok adalah jawaban Cecilia untuk pertanyaan "Kok Tante ngga takut ya nginep di sini - kan sepi ... aman ngga sih?"


[kembali ke depan]


Pembuatan Ketok

Ketok dibuat dalam waktu sekitar 13 hari di bulan Agustus 2002. Tahapan pra-produksi sangat singkat, dan berjalan bersamaan dengan awal produksi. Pra-produksi melingkupi pembentukan konsep visual, perencanaan wawancara, dan storyboarding.


langsung ke
Pra-produksi 1
langsung ke Produksi 1
langsung ke Pra-produksi 2
langsung ke Produksi 2 atau lihat foto produksi
langsung ke Paska-Produksi
langsung ke Pemutaran dan Distribusi


[kembali ke depan]


Pra-produksi 1: Konsep Visual, Perencanaan Wawancara

Sudah lama Tintin ingin mencoba membuat animasi stop-motion, dan baginya Ketok adalah salah satu kesempatan bereksperimen dengan teknik ini. Karena waktu produksi yang singkat, teknik yang diambil adalah yang paling sederhana; gambar kapur stick-figure di atas papan tulis. Karena media dasarnya adalah papan tulis, Tintin merasa bahwa permainan lighting di atas papan tulis ini akan sangat menarik. Dari pemikiran lighting ini kemudian muncul ide untuk memanfaatkan shadow-play untuk bercerita. Teknik-teknik ini kemudian juga digabung dengan live-motion untuk memberi kesan nyata pada bagian tertentu.

Untuk narasi, Tintin menobatkan si pencerita kisah nyata, Cecilia, sebagai subyek utama. Wawancara terhadap Tulus merupakan tambahan yang berfungsi sebagai pendukung. Untuk mendapatkan kesan dialog yang real, Tintin meminta Kiki Moechtar dan Judith Goeritno untuk menjadi lawan bicara Cecilia. Pada awal rekaman, Kiki dan Judith hanya diberitahu bahwa Cecilia ingin menyampaikan cerita tentang kejadian di rumah barunya - hal ini dilakukan supaya kesan bercerita spontan dapat benar-benar tercapai.

Produksi 1: Rekaman dan Editing Audio

Rekaman cerita Cecilia direncanakan akan dilakukan hanya dengan satu kali pengambilan, namun bagian akhir cerita akhirnya perlu diulang beberapa kali karena Tintin ingin mendapatkan suasana dan tempo yang lebih cocok untuk Ketok.

Wawancara dengan Tulus lebih terarah dan dilakukan setelah rekaman percakapan Cecilia dengan Kiki dan Judith. Wawancara dan rekaman dilakukan oleh Tintin sendiri, dan pengarahan dilakukan selama wawancara berlangsung.

Pada rekaman audio ini, Tintin membiarkan suara lawan bicara masuk, namun fokus tetap ada pada Cecilia dan Tulus sebagai pembicara.

Editing audio dilaksanakan segera setelah bahan rekaman audio terkumpul. Dalam editing audio, cerita yang disampaikan Cecilia dan Tulus dibentuk kembali. Tempo bercerita pun diperbaiki. Jeda yang terlalu lama, misalnya, dan kata-kata yang terlalu sering diulang, dibentuk dalam proses ini. Kelemahan pada waktu pengambilan spontan - seperti level audio yang terlalu tinggi sehingga suara pecah - tidak dapat diperbaiki dengan sempurna. Tintin memutuskan tidak mengolah kelemahan rekaman lebih lanjut karena efek spontan yang ditimbulkannya, yang sejalan dengan atmosfir cerita. Beberapa adegan audial di mana pembicara terdengar terbata-bata dan mengulang beberapa kata untuk menangkap pikirannya kembali ke dalam jejak cerita juga tidak dipotong habis sehingga kesan spontan masih kental terasa.

Pra-Produksi 2: Storyboarding, dan Seleksi footage/stock

Storyboarding dilakukan sedikit sebelum dan sebagian besar setelah rekaman dan editing audio. Setelah editing audio, proses storyboarding menjadi jauh lebih cepat karena tempo dan atmosfir yang diinginkan sudah terlihat lebih jelas.

Teknik visual yang sederhana bagi Tintin merupakan kilas balik ke masa kecilnya. Ia ingat masa-masa sekolah dasar di mana ia dan teman-temannya sering saling bercerita di halaman sekolah. Sepulang sekolah, ketika sekolah sudah sepi, Tintin dan beberapa teman mencuri kapur di kelas dan membawanya ke bangku kayu panjang di halaman sekolah. Di bangku kayu tersebut, anak-anak ini saling menyampaikan cerita lengkap dengan ilustrasi kapurnya. Topik cerita sangat beragam, dan jauh dari bayangan umum orang dewasa terhadap dunia anak-anak. Salah satu teman, misalnya, sangat suka bercerita tentang kekerasan dan topik "dewasa" lainnya. Kata lain yang cukup digemari pada waktu itu adalah "darah".

Karena inilah rupanya, bagi Tintin, stick figure tidak sekedar melambangkan dunia anak-anak yang polos, bahagia, dan bebas dari rasa takut. Banyak yang tersirat di balik itu, dan siratan-tak-terduga inilah yang Tintin ingin manfaatkan dalam Ketok.

Ketika storyboard yang dijadikan pedoman hampir selesai, Tintin mengadakan brainstorming visualisasi dengan Judith dan Kiki. Tintin memperlakukan visualisasi seperti rekonstruksi adegan, dan dengan sengaja memperlihatkan apa yang kira-kira ada di dalam benak subyek ketika kejadian terjadi. Lewat brainstorm dengan Judith dan Kiki, Tintin berharap dapat menangkap kesan yang diterima Judith dan Kiki ketika pertama kali mendengar cerita dari Cecilia.

Dalam proses storyboarding ini Tintin juga mulai memilih footage dan menyeleksi stock photographs yang tersedia, hasil karya Judith dan Kiki dengan subyek teman-teman mereka sendiri. Dalam pemilihan, ada beberapa klasifikasi yang ia terapkan - foto stock pada umumnya bersubyek bangunan kosong dan orang-orang yang berpose sendirian.

Produksi 2: Shooting

Shooting dilakukan di beberapa lokasi.

Lokasi pertama adalah sawah di belakang rumah Kiki dan Judith, dengan subyek Judith. Prop pada shooting ini hanyalah yang tersedia di sekitar lokasi pada saat itu juga. Dari shooting pada suatu sore ini dihasilkan beberapa footage live-motion yang akhirnya hanya dipakai beberapa detik saja dalam Ketok.

Lokasi kedua adalah Ruang Kelas Gitar di Griya Musik Irama Indah Denpasar. Ruang ini dipilih karena mempunyai papan tulis hijau dan berlampu neon usang. Pada papan tulis inilah sekitar 80% shooting dilakukan selama 2 hari.

Lokasi ketiga adalah Ruang Tunggu di Griya Musik Irama Indah Denpasar. Ruang ini dipilih karena letak dan jenis pintu yang kebetulan ada di sini. Ada beberapa pintu masuk menuju kelas musik di ruangan ini, bentuknya sangat sederhana dan terlihat tua. Shooting di lokasi ini dilakukan pada malam hari, bersamaan dengan shooting di lokasi keempat, di mana terdapat prop berupa jam dinding.

Pada semua lokasi, shooting dilakukan dengan kamera miniDV. Pada lokasi pertama, kamera hand-held berusaha menciptakan kembali atmosfir yang ada di beberapa foto stok yang tersedia. Pencahayaan pada lokasi ini alami, dengan sinar matahari.

Pada lokasi kedua, kamera dipasang di atas tripod, lalu area gambar di papan tulis ditentukan sebelum shooting dimulai. Pencahayaan didapat dari lampu neon usang di dalam ruangan dan lampu neon kecil untuk meja belajar. Efek nyala-mati lampu neon ruangan juga dimanfaatkan, termasuk bunyi kenop lampu dan getaran lampu neon yang usang.

Lokasi ketiga agak istimewa. Tintin menginginkan kesan perspektif yang sangat ekstrim, namun lensa yang memadai tidak tersedia. Untuk ini dipakai kamera CCTV wireless yang kebetulan berlensa fish-eye. Kamera miniDV kemudian dipakai merekam footage dari monitor CCTV di ruangan lain, sehingga efek transmisi kamera yang terganggu kemudian juga menjadi elemen dari footage yang didapat.

Paska-Produksi: Penyuntingan

Penyuntingan dilakukan secara digital, dan berusaha memanfaatkan footage dan stock semaksimal mungkin sebelum beralih ke efek digital.

Dalam penyuntingan Tintin berpedoman pada hasil edit audio yang telah hampir selesai pada tahap ini. Yang ingin ditunjukkan adalah bagaimana otak manusia bekerja membentuk imaji-imaji tertentu yang diasosiasikan dengan cerita. Bagaimana menggambarkan ketukan di pintu, atau kesalahan penyebutan benda tertentu, atau kegagapan, misalnya.

Tempo menjadi sangat penting dalam penyuntingan, untuk mengikuti dinamika pentuturan Cecilia dan Tulus sebagai subyek. Karena yang disunting kebanyakan adalah footage untuk animasi stop-motion, Tintin memutuskan untuk menerapkan teknik penyuntingan yang sama pada footage untuk live-motion. Modal penyuntingan stop-motion dalam penyuntingan adalah tiap frame gerakan, bukan gerakan keseluruhan, sehingga dengan menerapkan teknik ini pada live-motion, footage yang sama kemudian dapat disajikan dalam berbagai macam tempo.

Untuk stop-motion, rata-rata jumlah frame per detik adalah 4 buah. Tintin juga berusaha tidak memakai transisi dissolve antar-gambar, sehingga pada visualisasi dialog di mana Cecilia dan Tulus bercerita bersama-sama, harus dicoba teknik lain. Dalam kesempatan itu Tintin memakai cut bolak-balik yang sangat cepat, berdasarkan konsep bahwa bila 2 gambar dipertunjukkan bergantian, mata manusia akan menangkapnya sebagai gambar yang ditumpuk satu sama lain.


Pemutaran dan Distribusi Ketok


Pemutaran perdana Ketok di Bali: Gigir Manuk Multicultural Art Camp, Kubutambahan, Buleleng, tanggal 11 September 2002.

Pemutaran perdana Ketok di DKI Jakarta: Festiv4l Film-Video Independen Indonesia 2002, tanggal 17 sampai 20 Oktober 2002.

Dalam FFVII 2002, Ketok mendapatkan
- Penghargaan SET sebagai Film Terbaik, dan
- Penghargaan Kuldesak sebagai Film dengan Pencapaian Teknis Terbaik.


[kembali ke depan]


atau

[film lainnya]