Paska-Produksi: Penyuntingan
Penyuntingan dilakukan secara digital, dan berusaha memanfaatkan footage dan stock semaksimal mungkin sebelum beralih ke efek digital.
Dalam penyuntingan Tintin berpedoman pada hasil edit audio yang telah hampir selesai pada tahap ini. Yang ingin ditunjukkan adalah bagaimana otak manusia bekerja membentuk imaji-imaji tertentu yang diasosiasikan dengan cerita. Bagaimana menggambarkan ketukan di pintu, atau kesalahan penyebutan benda tertentu, atau kegagapan, misalnya.
Tempo menjadi sangat penting dalam penyuntingan, untuk mengikuti dinamika pentuturan Cecilia dan Tulus sebagai subyek. Karena yang disunting kebanyakan adalah footage untuk animasi stop-motion, Tintin memutuskan untuk menerapkan teknik penyuntingan yang sama pada footage untuk live-motion. Modal penyuntingan stop-motion dalam penyuntingan adalah tiap frame gerakan, bukan gerakan keseluruhan, sehingga dengan menerapkan teknik ini pada live-motion, footage yang sama kemudian dapat disajikan dalam berbagai macam tempo.
Untuk stop-motion, rata-rata jumlah frame per detik adalah 4 buah.
Tintin juga berusaha tidak memakai transisi dissolve antar-gambar, sehingga pada visualisasi dialog di mana Cecilia dan Tulus bercerita bersama-sama, harus dicoba teknik lain. Dalam kesempatan itu Tintin memakai cut bolak-balik yang sangat cepat, berdasarkan konsep bahwa bila 2 gambar dipertunjukkan bergantian, mata manusia akan menangkapnya sebagai gambar yang ditumpuk satu sama lain.
Pemutaran dan Distribusi Ketok
Pemutaran perdana Ketok di Bali: Gigir Manuk Multicultural Art Camp, Kubutambahan, Buleleng, tanggal 11 September 2002.
Pemutaran perdana Ketok di DKI Jakarta: Festiv4l Film-Video Independen Indonesia 2002, tanggal 17 sampai 20 Oktober 2002.
Dalam FFVII 2002, Ketok mendapatkan
- Penghargaan SET sebagai Film Terbaik, dan
- Penghargaan Kuldesak sebagai Film dengan Pencapaian Teknis Terbaik.
[kembali ke depan]
atau
[film lainnya]